Ketua Badan Legislasi DPRD Kota Kotamobagu, Ir Ishak Sugeha, ME

Kabarbm.com, Kotamobagu— Saling tuding antara dua Aleg DPRD Kota Kotamobagu Agus Suprijanta dan Ishak Sugeha mulai menguak adanya ketidak beresan Tupoksi Lembaga ini lebih khusus tentang peran Legislasinya.

Tiga Ranperda Perubahan yang dipersoalkan kolega saya Agus Suprijanta kata Ishak, “Sudah menjadi keputusan rapat Internal Banleg dan Pimpinan DPRD yang juga dihadiri Agus sebagai Anggota Banleg bahwa, Ranperda yang diserahkan ke Pansus harus kembali ke Banleg. Tapi kenapa Agus tetap ngotot Ranperda hanya dibahas ditingkat Pansus,” ujar Ishak. “karena sejak awal saya dan teman-teman Anggota DPRD melihat ada gelagat yang tidak baik memotivasi Agus melakukan itu,” bebernya.

Selanjutnya kata Ketua Fraksi Demokrat ini, “Penganggaran Naskah Akademik yang menurut Agus bersarannya 50 juta rupiah per Ranperda, itu dananya dari SKPD teknis masing-masing sebab, Ranperda ini usulan Pemerintah.  Dan karena sifatnya Perubahan, maka hanya beberapa pasal yang dirubah atau direvisi. Maka tidak membutuhkan NA yang nilainya 50 juta rupiah seperti kata Agus,” terang Ishak.

“Lagi-lagi Agus mengalami kendangkalan berfikir yang sejak awal saya katakan sangat tidak memahami Tupoksi Banleg karena baru beberapa bulan lalu bergabung, dan apa sesungguhnya yang terjadi dia tidak faham karena Agus jarang hadir di Rapat Banleg,” Singgung Papa Yogi.

 Tak sampai disitu, Anggota DPRD dua periode ini juga menanggapi pernyataan Agus yang menduga dirinya dan teman-teman DPRD lain ada kepentingan tertentu dalam pembahasan Ranperda dengan menyebut jumlah Anggaran Rp 50 juta dalam penyusunan NA. 

“Insya Allah itu fitnah yang keji,” Tukas Ishak.  Saya justru meyakini kenapa Agus sejak awal berupaya masuk ke Banleg karena ada keinginan besar utk meloloskan Ranperda RDTR untuk dibahas dan segera diparipurnakan. Karena ada komitmen dengan pihak tertentu yang saat ini sangat membutuhkan segera ditetapkannya RDTR yang  katanya sebagai sebuah regulasi utk memuluskan salah satu investor,” Ungkap Anggota Komisi II ini.

Ishak menambahkan, “Saya sedikit memiliki ilmu dokumen Tata Ruang termasuk RDTR, yg oleh Agus, saya dan teman-teman dianggap penghambat Raperda RDTR tersebut.  Itulah yang menjadikan Agus kebingungan dan kadang tidak waras.

Terakhir Politikus Partai Besutan SBY ini mengingatkan pada koleganya itu,  kalau “Sehebat-hebatnya anda membujuk saya, jika itu merusak tatanan dan nama baik Lembaga DPRD yang ujungnya berkonsekwensi hukum, tidak pernah akan mempengaruhi saya. Lembaga DPRD bukan tempat transaksional seperti tukang blantek,” Tutup Ishak dalam rilisnya pada kabarbmr.com via WatsApp. (flo)

TIDAK ADA KOMENTAR