Aditya Anugrah 'Didi' Moha, S.Ked, MM, saat berbicara pada peluncuran buku karyanya berjudul Ekonomi Politik Kesehatan Indonesia (refleksi pemikiran dan kebijakan kesehatan) di Lantai 2 Toko Gramedia Manado, Kamis (10/11/2016). ADM didampingi Narasumber Prof DR dr Fachmi Idris dan DR dr Taufik Pasiak, MPdI, MKes. Acara ini dimoderatori Pitres Sombowadille.

Hari masih pagi, keramaian di toko buku Gramedia, terletak di Jalan Sam Ratulangi Manado, Kamis (10/11/2016), lain dari hari-hari biasanya. Mulai dari halaman depan toko Gramedia yang dipasangi kanopi—memayungi lima lapak berukuran besar tempat menggelar ribuan judul buku yang diobral dengan harga sangat murah: mulai Rp3.000 sampai 10.000 per judul—hingga lantai 1 dan 2; etalase buku-buku mahal, dijubeli pengunjung.

LANTAI 2 Gramedia, lokasi Launching Buku berjudul; Ekonomi Politik Kesehatan Indonesia (refleksi pemikiran dan kebijakan kesehatan) karya Aditya Anugrah ‘Didi’ Moha (ADM),  apalagi; sangat ramai.

Akademisi, mahasiswa, pemerhati serta praktisi ekonomi, politik, kesehatan, kumpul. Sambil menunggu acara peluncuran buku setebal 208 halaman—termasuk cover depan bergambar sketsa ADM serta bagian belakang menulis testimoni/komentar lima tokoh masing-masing Drs Setya Novanto, Ketua Umum Partai Golkar 2016-2019, DR H Ade Komarudin, MH, Ketua DPR RI, Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, Mulyaman D Hadad, Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan RI, Prof DR dr Fachmi Idris, Direktur Utama BPJS Kesehatan dan Dede Yusuf Effendi, Ketua Komisi IX DPR RI—dengan conten (isi) mulai dari tulisan sambutan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, prolog oleh ADM sebagai penulis buku. Para pengunjung membolak-balik buku karya ADM sambil mengitari etalase khusus memajang buku refleksi dari putra sulung mantan Bupati Bolmong dua periode, Dra Hj Marlina Moha Siahaan (MMS)-Alm Hi Syamsuddin Kudji Moha (SKM).

Sekira pukul 15.00 WITA, peluncuran buku ADM dimulai. Politisi berlatar dokter muda dan aktifis ini, berbicara paling awal. Dengan lugas dan gamblang, dalam panel diikuti dua narasumber yakni Prof DR dr Fachmi Idris, Direktur Utama BPJS Kesehatan dan DR dr Taufik Pasiak, MPdI, MKes, dosen Fakultas Kedokteran Unsrat Manado, anggota DPR RI Komisi XI ini mengurai  hal yang mendorong hatinya menulis buku tersebut.

“Demi (melihat) pelayanan kesehatan di tanah air, mesti ada paradigma baru mewujudkannya. Paradigma itu, dibangun bukan paradigma sakit. Ibarat sekadar berfungsi laiknya pemadam kebakaran, bergerak saat api mulai melahap pemukiman warga. Melainkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara preventif-promotif, kuratif dan rehabilitatif,’’kata suami tercinta Anggelina Tjanring, SE.

Dari sisi politik anggaran, ayah dari Ayyasafiah Lovelynatya Kinzara Moha dan Ayshalina Dwinatya Moha, mengatakan, UU Kesehatan tegas dan lugas menitahkan anggaran publik sampai titik 5 persen.

“Ini sudah terealisasi sejak 2015. Walau begitu, bicara visi ideal kesehatan Indonesia, mestinya ploting anggarannya pada kisaran diatas 10 persen. Ploting sebesar itu barulah kita bicara ditel ikhwal Puskesmas Terpadu, Rumah Sakit yang memiliki nilai rujukan nasional dan pelayanan komprehensif di tingkat nasional,’’papar ADM.

Politisi muda ini berharap, kehadiran buku karyanya, pada akhirnya mendorong pemerintah, memahami secara utuh bahwa membangun Indonesia tidak sekadar membangun jalan, jembatan, rumah, gedung mewah dan jalan tol saja. Namun juga membangun kesehatan yang komprehensif.

“Apalah artinya jalan, jembatan dan fasilitas lain, bila masyarakat Indonesia sakit-sakitan,’’ucap ADM disamput standing aplaus ratusan pengunjung, diringi teplok tangan yang panjang.

Narasumber Fachmi Idris yang tampil pada sesi bedah buku, mengatakan buku ADM sangat mencerahkan dan layak dibaca.

“Sekilas banyak buku sejenis yang judulnya kurang lebih sama. Namun setelah saya dalami, buku ini menjadi istimewa karena ada ‘perjalanan hidup’ penulis selaku tokoh yang terlibat langsung. Terutama ketika mengawal RUU BPJS. Buku ini menarik dibaca, karena ada banyak warna di dalamnya; warna akademis, populis, ekonomis dan tentu saja politis. Luar biasa. Beliau (ADM) politisi intelek. Dalam buku ini juga, ADM menulis frasa Swasembada Kesehatan. Selama ini kita hanya membaca atau mendengar Swasembada Beras, Kedaulatan Pangan dan sebagainya. Baru kali ini saya membaca Swasembada Kesehatan dan itu dari buku ADM. Beliau kreatornya untuk Indonesia,’’kata Fachmi Idris.

Bedah buku dimoderatori Pitres Sombowadile, menampilkan pula Taufik Pasiak, akademisi yang juga produktif menulis buku.

Kata Pasiak, ada dua hal mendorong dalam menulis buku. Pertama, secara empirik (pengalaman) seseorang menjadi penulis. Kedua, karena latar belakang keilmuan.

“Nah, buku adinda ADM adalah gabungan keduanya,’’kata dosen Fakultas Kedokteran bergelar Doktor Spritual dan Ahli Otak.

Peluncuran buku ADM, tak cuma bertabur puja-puji dari narasumber. Kritik dan saran mengapung pula dari pengunjung. Diantaranya Kadis Kesehatan Provinsi Sulut, DR dr Grace Punuh, MKes yang mewakili Gubernur Sulut Olly Dondokambey pada acara itu.

Juga dari aktifis PMI, Drs Firasat Mokodompit, akademisi Drs Reiner Ointoe dan DR Ridwan Lasabuda.

Acara dihadiri Wakil Walikota Kotamobagu, Drs Hi Jainudin Damopolii, Ibunda ADM, Hj Marlina Moha Siahaan yang juga Ketua Komisi 2 Deprov Sulut, Kepala Bank Indonesia Wilayah Sulut, Piether, berakhir menjelang Maghrib, Kamis.(#)

TIDAK ADA KOMENTAR